Friday, December 23, 2011

sajak musim tengkujuh





bagun pagi melihat langit,
awan dari celah-celah atap daun yang bocor
gelap dan penuh ti...tik-ti...tik hujan
hujan semalam belum reda
dan tanah masih basah,
dahaga pagi dipujuk pahit secangkir kopi
dan sepinggan rebus ubi
bercicah sambal lada garam, ikan asin dan kelapa parut
sekadar pengalas perut,
lalu bergegas ke sungai
mengintai paras air,
sambil melihat perahu di tambatan
entahkan air sungai naik mendadak
di kuala anak-anak sungai air menyenak
wah!  kita dah bah!
dalam hujan yang belum palih
reda pun tidak juga
mengalirkan selut dan lumpur dan ke sungai
dibawa hanyut deras arus dari hulu ke muara
menenggelamkan dukalara
anak kampong di pedalaman.

sungai kita makin berlumpur dari dahulu
tentu bumi kita semakin parah
kerana bukit dan gunung ditarah
paya dan tasik di tambun
bumi sudah jadi bagai dataran
sama dan rata
dimana gunung dan bukit menahan angin?
dimana paya dan tasik menampong air?
tentu bumi kita semakin marah  
dalam usia tuanya
ia akan lebih banyak muntahkan lahar
gunung terbakar
bahkan menggocak laut jadi tsunami
akan lebih banyak mencetuskan gegar
dan gempa bumi
akan lebih banyak air membiarkan banjir
tenggelamkan kekejaman
akan lebih banyak keringnya daratan
oleh kemarau panjang
akan lebih banyak mencarik merobek
lapisan ozon oleh asap dan pembakaran
bumi kita semakin parah  
bumi kita semakin marah  
bumi kita semakin merah  
kerana kita tidak pernah berterima kasih
dan menyayangi
kerana menyangka itu adalah hak
bukan pemberian dan tanggungjawab
kita menjadi makhluk yang rakus
dan memusnahkan
atas nama pembangunan

tiba-tiba aku terasa
kopiku semakin pahit
ooooh! 'harga gula sudah naik'.......
teringatkan rumpun  tebu di halaman
teringat tanaman di kebun yang tenggelam
bantuan kerajaan apakah akan sampai atau mungkin hilang
mungkin ada yang menyembunyikan
nanti, 
aku akan adukan kepada pak menteri........
kami orang kampong juga punya 1 undi

jrt/

Sunday, December 4, 2011

aku tidak peduli



sekian lama aku
kehilangan kata-kata
ku akurkan berdiam diri lebih baik dari berbicara
ketika akhirnya kata-kata pun
kehilangan makna
sekian musim aku
tidak melihat pelangi
tidak juga mengintai
dari mana datangnya
warna-warna pada bunga-bunga
aku tidak lagi melukis
impian dan harapanku hanyalah
hitam dan putih
untuk kesekian kalinya
aku tidak lagi peduli
pada suara
kerana yang selama ini bergetar dalam dada
hanyalah himpunan sepi yang meraung
di jiwa yang kosong
aku sudah tidak peduli lagi
kamu masih ada atau tiada lagi
sebagaimana engkau juga
tidak pernah peduli
tentang bagaimana aku di sini
saat ini....!