Friday, December 31, 2010

dihadapanku kau menghulurkan tangan



aku berlari
meredah gelap dan sepi
dalam imagenasi
harimau memburu
menerkam, mencakar dan mengigit
atau ular besar
membelit dan menelanku
menghentikan nafasku,
lalu aku berlari
sekuat hatiku
sekuat kakiku
waktu semakin sedikit
dan ruang semakin sempit,
yang mengejarku
dan yang kukejar
adalah waktu,
dihadapanku
kau menghulurkan tanganmu
untuk kita
saling berdakapan

Thursday, December 23, 2010

sebuah puisi, secangkir kopi di starbucks



sesekali terperangkap
dalam lalulintas yang sesak
kadangkala lupa
melihat diri
melihat kedalam hati nurani

saat ini aku tidak merasa dekat
tentu tidak seperti dulu

anginpun tidak lagi menyebar
harum bau rambutmu

meneguk lazatnya kopi
sambil duduk-duduk di 'starbucks'
jari-jermari mengetik 'papankekunci'
dan ingin menulis puisi;
aku ingin melihat kamu -
tiba-tiba saja muncul
dan menyapa
'abang, dah lama tiba?

Friday, December 17, 2010

suratmu



suaratmu aku baca;
waktulah memisahkan kita
hatimu tak seteguh batu
katamu pun tak semanis dulu
lalu suratmu kusimpan
membiarkannya tetap manis
dalam ingatan

Sunday, December 12, 2010

kampong kami


kuala tahan

kampong kami kecil
dan terpencil
jauh dipedalaman
kami miskin harta
kaya kami dengan budi-bahasa
memurahkan hati kami
............
sebuah gunung tertegak
berdiri gagah seperti
nenek moyang kami
membangunkan kampong dengan tulang
empat kerat dengan segala kudrat,
sebatang sungai mengalir dipinggir
kampong kami
tenang dan damai
dengan segala anak-anaknya
bagai menuju kepelukkan 'ibu'
menghidupkan seluruh warga kampong
memberinya nyawa
menyuburkan tumbuhan dan
menghidupkan ternakan
........................
sebuah gunung tertegak
berdiri gagah seperti
nenek moyang kami 
meniupkan udara nyaman
memberikan kami nafas menghirup kehidupan,
kampong kami kecil 
dan terpencil
jauh dipedalaman
.................
disini kami bebas
berdiri diatas kaki dan berpijak dibumi
jika kami rebah
bagai burung yang sayapnya patah
kami bertahan bertongkatkan paruh
............
kami bertahan bertongkatkan paruh
bagai burung yang sayapnya patah
jika kami rebah
berdiri diatas kaki dan berpijak dibumi
disini kami bebas
jauh dipedalaman
dan terpencil
kampong kami kecil

Saturday, December 11, 2010

dari si Khalil Gibran





Kerana aku penyair kecil, aku mengagumi penyair besar. Kerana aku menulis puisi kecil, maka sesekali aku membaca puisi besar. Khalil Gibran ~ pemuisi besar dan tersohor. Malanglah jikalau kita tidak mengenalinya. Merugi lah jikalau kita tidak menghayati puisi-puisinya. Mari kita kongsikan dan menikmati keindahan 2 puisi ini;


Kemarilah, kekasihku.
Kemarilah Layla, dan jangan tinggalkan aku.
Kehidupan lebih lemah daripada kematian, tetapi kematian lebih lemah daripada cinta… 
Engkau telah membebaskanku, Layla, dari siksaan gelak tawa dan pahitnya anggur itu.
Izinkan aku mencium tanganmu, tangan yang telah memutuskan rantai-rantaiku. 
Ciumlah bibirku, ciumlah bibir yang telah mencuba untuk membohongi dan yang telah menyelimuti rahsia-rahsia hatiku. 
Tutuplah mataku yang meredup ini dengan jari-jemarimu yang berlumuran darah. 
Ketika jiwaku melayang ke angkasa, taruhlah pisau itu di tangan kananku dan katakan pada mereka bahawa aku telah bunuh diri kerana putus asa dan cemburu. 
Aku hanya mencintaimu, Layla, dan bukan yang lain, aku berfikir bahwa tadi lebih baik bagiku untuk mengorbankan hatiku, kebahagiaanku, kehidupanku daripada melarikan diri bersamamu pada malam pernikahanmu.
Ciumlah aku, kekasih jiwaku… sebelum orang-orang melihat tubuhku…
Ciumlah aku… ciumlah, Layla…

~ Khalil Gibran




Berabad-abad yang lalu, di suatu jalan menuju Athens, dua orang penyair bertemu. Mereka mengagumi satu sama lain. Salah seorang penyair bertanya, “Apa yang kau ciptakan akhir-akhir ini, dan bagaimana dengan lirikmu?”
Penyair yang seorang lagi  menjawab dengan bangga, “Aku tidak melakukan hal lain selain menyelesaikan syairku yang paling indah, kemungkinan merupakan syair yang paling hebat yang pernah ditulis di Yunani. Isinya pujian tentang Zeus yang Mulia.”
Lalu dia mengambil selembar kulit dari sebalik jubahnya dan berkata, “Ke mari, lihatlah, syair ini kubawa, dan aku senang bila dapat membacakannya untukmu. Ayuh, mari kita duduk berteduh di bawah pohon cypress putih itu.”
Lalu penyair itu membacakan syairnya.  Syair itu panjang sekali.
Setelah selesai, penyair yang satu berkata, “Itu syair yang indah sekali. Syair itu akan dikenang berabad-abad dan akan membuat engkau masyhur.”
Penyair pertama berkata dengan tenang, “Dan apa yang telah kau ciptakan akhir-akhir ini?”
Penyair kedua menjawab, “Aku hanya menulis sedikit. Hanya lapan baris untuk mengenang seorang anak yang bermain di kebun.” Lalu ia membacakan syairnya.
Penyair pertama berkata, “Boleh tahan, boleh tahan.”
Kemudian mereka berpisah.
Sekarang, setelah dua ribu tahun berlalu, syair lapan baris itu dibaca di setiap lidah, diulang-ulang, dihargai dan selalu dikenang. Dan walaupun syair yang satu lagi memang benar bertahan berabad-abad lamanya dalam perpustakaan, di rak-rak buku, dan walaupun syair itu dikenang, namun tidak ada yang tertarik untuk menyukainya atau membacanya.

~ Khalil Gibran


-----------------------------------------

Khalil Gibran (6 Januari 1883 - 10 April 1931), merupakan seorang seniman, panyair dan pengarang. Beliau dilahirkan di Beshari, yang merupakan daerah yang kerap disinggahi badai, gempa serta petir. Tak hairan bila sejak kecil, mata Gibran sudah terbiasa menangkap fenomena-fenomena alam tersebut. Inilah yang nantinya banyak mempengaruhi tulisan-tulisannya tentang alam.

Pada usia 10 tahun, bersama ibu dan kedua adik perempuannya, Gibran pindah ke BostonAmerika Syarikat. Gibran kecil mengalami kejutan budaya, seperti yang banyak dialami oleh para imigran lain yang berhamburan datang ke Amerika Serikat pada akhir abad ke-19. Keceriaan Gibran di bangku sekolah umum di Boston, diisi dengan masa akulturasinya maka bahasa dan gayanya dibentuk oleh corak kehidupan Amerika. Namun, proses pengamerikanan Gibran hanya berlangsung selama tiga tahun karena setelah itu dia kembali ke Bairut, di mana dia belajar di Madrasah Al-Hikmat (School of Wisdom) sejak tahun 1898 sampai 1901.


Awal remaja
Selama awal masa remaja, visinya tentang tanah kelahiran dan masa depannya mulai terbentuk. Tirani kerajaan Turki Uthmaniyyah, sifat munafik organisasi gereja, dan peranan kaum wanita Asia Barat yang sekadar sebagai pengabdi, mengilhami cara pandangnya yang kemudian dituangkan ke dalam karya-karyanya yang berbahasa Arab.
Gibran meninggalkan tanah airnya lagi saat ia berusia 19 tahun, namun ingatannya tak pernah bisa lepas dari Lubnan. Lubnan sudah menjadi inspirasinya. Di Boston dia menulis tentang negerinya itu untuk mengekspresikan dirinya. Ini yang kemudian justru memberinya kebebasan untuk menggabungkan 2 pengalaman budayanya yang berbeda menjadi satu.

Semasa di Paris
Gibran menulis drama pertamanya di Paris dari tahun 1901 hingga 1902. Tatkala itu usianya menginjak 20 tahun. Karya pertamanya, "Spirits Rebellious" ditulis di Boston dan diterbitkan di New York, yang berisi empat cerita kontemporer sebagai sindiran keras yang meyerang orang-orang korup yang dilihatnya. Akibatnya, Gibran menerima hukuman berupa pengucilan dari gereja Maronite. Akan tetapi, sindiran-sindiran Gibran itu tiba-tiba dianggap sebagai harapan dan suara pembebasan bagi kaum tertindas di Asia Barat.

Masa-masa pembentukan diri selama di Paris cerai-berai ketika Gibran menerima khabar dari Konsulat Jendral Turki, bahwa sebuah tragedi telah menghancurkan keluarganya. Adik perempuannya yang paling muda berumur 15 tahun, Sultana, meninggal karena TBC.

Gibran segera kembali ke Boston. Kakaknya, Peter, seorang pekedai yang menjadi tumpuan hidup saudara-saudara dan ibunya juga meninggal kerana TBC. Ibu yang memuja dan dipujanya, Kamilah, juga telah meninggal dunia kerana tumor ganas. Hanya adiknya, Marianna, yang masih hidup, dan ia dihantui trauma penyakit dan kemiskinan keluarganya. Kematian anggota keluarga yang sangat dicintainya itu terjadi antara bulan Mac dan Jun tahun 1903. Gibran dan adiknya lantas harus menyangga sebuah keluarga yang tidak lengkap ini dan berusaha keras untuk menjaga kelangsungan hidupnya.
Di tahun-tahun awal kehidupan mereka berdua, Marianna membiayai penerbitan karya-karya Gibran dengan biaya yang diperoleh dari hasil menjahit di Miss Teahan's Gowns. Berkat kerja keras adiknya itu, Gibran dapat meneruskan karier keseniman dan kesasteraannya yang masih awal.

Pada tahun 1908 Gibran singgah di Paris lagi. Di sini dia hidup senang karena secara rutin menerima cukup uang dari Mary Haskell, seorang wanita kepala sekolah yang berusia 10 tahun lebih tua namun dikenal memiliki hubungan khusus dengannya sejak masih tinggal di Boston. Dari tahun 1909 sampai 1910, dia belajar di School of Beaux Arts dan Julian Academy. Kembali ke Boston, Gibran mendirikan sebuah studio di West Cedar Street di bagian kota Beacon Hill. Ia juga mengambil alih pembiayaan keluarganya.

Pada tahun 1911 Gibran pindah ke kota New York. Di New York Gibran bekerja di apartemen studionya di 51 West Tenth Street, sebuah bangunan yang sengaja didirikan untuk tempat ia melukis dan menulis.
Sebelum tahun 1912 "Broken Wings" telah diterbitkan dalam bahasa Arab. Buku ini bercerita tentang cinta Selma Karami kepada seorang muridnya. Namun, Selma terpaksa menjadi tunangan kemenakannya sendiri sebelum akhirnya menikah dengan suami yang merupakan seorang uskup yang oportunis. Karya Gibran ini sering dianggap sebagai autobiografinya.

Pengaruh "Broken Wings" terasa sangat besar di dunia Arab karena di sini untuk pertama kalinya wanita-wanita Arab yang dinomorduakan mempunyai kesempatan untuk berbicara bahwa mereka adalah istri yang memiliki hak untuk memprotes struktur kekuasaan yang diatur dalam perkawinan. Cetakan pertama "Broken Wings" ini dipersembahkan untuk Mary Haskell.

Gibran sangat produktif dan hidupnya mengalami banyak perbedaan pada tahun-tahun berikutnya. Selain menulis dalam bahasa Arab, dia juga terus menyempurnakan penguasaan bahasa Inggrisnya dan mengembangkan kesenimanannya. Ketika terjadi perang besar di Lebanon, Gibran menjadi seorang pengamat dari kalangan nonpemerintah bagi masyarakat Syria yang tinggal di Amerika.
Ketika Gibran dewasa, pandangannya mengenai dunia Timur meredup. Pierre Loti, seorang novelis Perancis, yang sangat terpikat dengan dunia Timur pernah berkata pada Gibran, kalau hal ini sangat mengenaskan. Disedari atau tidak, Gibran memang telah belajar untuk mengagumi kehebatan Barat.

Karya pertamanya
Sebelum tahun 1918, Gibran sudah siap meluncurkan karya pertamanya dalam bahasa Inggeris, "The Madman", "His Parables and Poems". Persahabatan yang erat antara Mary tergambar dalam "The Madman". Setelah "The Madman", buku Gibran yang berbahasa Inggris adalah "Twenty Drawing", 1919; "The Forerunne", 1920; dan "Sang Nabi" pada tahun 1923, karya-karya itu adalah suatu cara agar dirinya memahami dunia sebagai orang dewasa dan sebagai seorang siswa sekolah di Lebanon, ditulis dalam bahasa Arab, namun tidak dipublikasikan dan kemudian dikembangkan lagi untuk ditulis ulang dalam bahasa Inggris pada tahun 1918-1922.

Sebelum terbitnya "Sang Nabi", hubungan dekat antara Mary dan Gibran mulai tidak jelas. Mary dilamar Florance Minis, seorang pengusaha kaya dari Georgia. Ia menawarkan pada Mary sebuah kehidupan mewah dan mendesaknya agar melepaskan tanggung jawab pendidikannya. Walau hubungan Mary dan Gibran pada mulanya diwarnai dengan berbagai pertimbangan dan diskusi mengenai kemungkinan pernikahan mereka, namun pada dasarnya prinsip-prinsip Mary selama ini banyak yang berbeda dengan Gibran. Ketidaksabaran mereka dalam membina hubungan dekat dan penolakan mereka terhadap ikatan perkawinan dengan jelas telah merasuk ke dalam hubungan tersebut. Akhirnya Mary menerima Florance Minis.

Pada tahun 1920 Gibran mendirikan sebuah asosiasi penulis Arab yang dinamakan Arrabithah Al Alamia (Ikatan Penulis). Tujuan ikatan ini merombak kesusastraan Arab yang stagnan. Seiring dengan naiknya reputasi Gibran, ia memiliki banyak pengagum. Salah satunya adalah Barbara Young. Ia mengenal Gibran setelah membaca "Sang Nabi". Barbara Young sendiri merupakan pemilik sebuah toko buku yang sebelumnya menjadi guru bahasa Inggeris. Selama 8 tahun tinggal di New York, Barbara Young ikut aktif dalam kegiatan studio Gibran.

Gibran menyelesaikan "Sand and Foam" tahun 1926, dan "Jesus the Son of Man" pada tahun 1928. Ia juga membacakan naskah drama tulisannya, "Lazarus" pada tanggal 6 Januari1929. Setelah itu Gibran menyelesaikan "The Earth Gods" pada tahun 1931. Karyanya yang lain "The Wanderer", yang selama ini ada di tangan Mary, diterbitkan tanpa nama pada tahun 1932, setelah kematiannya. Juga tulisannya yang lain "The Garden of the Propeth".

Kematian
Pada tanggal 10 April 1931 jam 11.00 malam, Gibran meninggal dunia. Tubuhnya memang telah lama digerogoti sirosis hati dan TBC, tapi selama ini ia menolak untuk dirawat di rumah sakit. Pada pagi hari terakhir itu, dia dibawa ke St. Vincent's Hospital di Greenwich Village.

Hari berikutnya Marianna mengirim telegram ke Mary di Savannah untuk mengabarkan kematian penyair ini. Meskipun harus merawat suaminya yang saat itu juga menderita sakit, Mary tetap menyempatkan diri untuk melayat Gibran.
Jenazah Gibran kemudian dikebumikan tanggal 21 Ogos di Ma Sarkis, sebuah biara Carmelite di mana Gibran pernah melakukan ibadah.

Sepeninggal Gibran, Barbara Younglah yang mengetahui seluk-beluk studio, warisan dan tanah peninggalan Gibran. Juga secarik kertas yang bertuliskan, "Di dalam hatiku masih ada sedikit keinginan untuk membantu dunia Timur, karena ia telah banyak sekali membantuku."





Friday, December 10, 2010

puisi itu



puisi itu
bukan hanya kata-kata
yang dibina menjadi kota
puisi itu adalah jiwa
dari roh yang melukis
nurani insan
bersama haruman
bunga-bunga syurga

puisi itu
sentiasa membuka
bukan menutup
sentiasa mendekat
bukan menjauh
sentiasa mengajak
bukan menolak
sentiasa aku
bukan kamu

puisi itu
pintu yang terbuka
...........................

Thursday, December 9, 2010

satu nota hati luka



butakan hatiku! butakan mataku!!!
saya bercakap dengan seseorang. seseorang becakap dengan saya. dia menegur saya. tulisan saya dan bahasa saya. katanya bahasa saya memberi kesan kepada ramai orang. dan saya penyebab kepada sebahagian dari kerosakan. saya kata, kalau begitu jangan datang ke laman ini dan jangan membaca sebarang tulisan-tulisan saya. oooo! saya tidak marah pada dia. saya juga tidak kisah dan tidak kesal. bagaimanapun percakapan itu tetap menyentuh hati saya. melahirkan tulisan 'lidahku kupotong-potong'. disinipun orang masih  tegur saya. orang masih membantah saya. mungkin ada marahkan saya. apa lagi yang boleh saya buat? saya tidak boleh menulis dan bersuara? kebebasan sudah tidak ada atau bukannya untuk saya?  rupanya dilaman puisi saya, saya sendiri sudah tidak berhak! apakah kerana saya ini 'azam'? atau kerana 'azam' itu saya?  saya peduli apa kalau ini bukan puisi! Heeeeeeeeeee!!!!!

Wednesday, December 8, 2010

lidahku kupotong-potong



lihatlah
ini lidah yang terpotong
dari penutur dusta maha agung
dihujungnya
beratus hati retak
beribu jiwa patah
berjuta kamu rebah bergelimpangan
mati dan terbakar
oleh api kata dari neraka
cukuplah!
mulut sudah kutahankan
dari memberi sembilu didalam madu
lalu
lidahku kuhiris-hiris
dan kupotong-potong

Monday, December 6, 2010

perempuan-perempuan



yang dari rahimnya aku lahir melihat dunia
yang ke dalam rahimnya aku membenamkan cintaku
        dalam-dalam
yang dari rahimnya pula tumbuh zuriat
        yang akan kita tinggalkan
        bertebaran di muka bumi Tuhan
yang dari rahim-rahim mereka juga
       menumbuhkan dan memenuhi alam menjadi kehidupan
perempuan-perempuan,
lelaki-lelaki jatuh dan sujud di celah kakimu
demi terbuka pintu syurga
terkapar dan terbakar segala lelaki-lelaki tercampak ke neraka
sebagaimana adam dan hawa
dicampakkan keluar syurga
angkara pohon itu
dan angkara buah itu.

Saturday, December 4, 2010

teriak



pyan,

kau pun teriak;
reformasi, revolusi dan 'ntah apa-apa lagi,
walau tersekat dalam dada
tapi suara untuk apa?
dibelakang
mereka mainkan sendiwara
dan kau tidak mendengarnya
memang kamu tidak mendengar
lalu kau terus meneriak bagi mereka
sedangakan jika mahu
mereka lebih mampu,
lalu kamu dicaturkan
kerana kekurangan
lalu kamu berieriak;
" AKU TIDAK MENDENGARRRR"

Thursday, December 2, 2010

pejamkan mata



1.
kepada jiwa, jangan kau patah dan rebah kerana kedukaan itu sebahagian kehidupan walau sesekali terjatuh namun harus cekalkan hati dan berdiri, diatas setiap kejatuhan itu kita harus bangkit dengan lebih berani lagi. lihat pada matahari yang bersinar itu apakah pernah patahhatinya? terbit dan jatuh dan terbit lagi dan jatuh lagi berulang-ulangkali! kita tidak akan menjadi orang besar jikalau jiwa sentiasa kecil. kita tidak mampu mencatat sejarah besar jika jiwa kecil, bahkan kita tidak mampu lakukan apa-apa dan kehidupan langsung tidak akan melihat kita.

2.
engkau, bagaikan tupai  melompat dari dahan ke dahan dan meniti dari ranting ke ranting apa yang engkau cari dalam kehidupanmu dan apakah telah engaku temuinya? hidup yang singkat dan masa yang berputar pantas. kita mengejar namun sering ketinggalan dan kita ditinggalkan keputusan mesti dibuat dan jangan takut pada kesilapan. kesilapan itu akan menumbuhkan pengalaman dan mendewasakan kita. bahagia itu adalah hak dan kita mesti menuntutnya. kehidupan ini kesaksamaan namun keinginaan tetap membezakannya diantara yang lebih dan kurang kepuasan didalam diri didalam hati. berbahagialah dengan seada-adanya

3.
hijau, masih segar dan berputik bagaikan hamparan rumput-rumput dihalaman. lihatlah matahari lihat lah matahati duniamu ini masih bagai kudup yang akan berkembang. sekelilingmu ada duri dan api. ada luka dan duka dalam senyummu ada ketika engkau juga akan menangis. ini hidup kita tetapi bukan kehidupan kita, bukan kita yang punya. dengan sepuluh jari kita tidak mampu menghitung hingga seribu. pandangilah bintang di langit tetapi pandang juga kerumput di bumi. berpijaklah dengan tegap dan pasti.

4.
.................
aku melihat camar. aku melihat tiang layar. aku melihat kapal pedagang. aku melihat perantau pulang. aku tidak melihat aku, aku tidak temui diriku lagi. aku ingin teriak memanggil seseorang tetapi aku terlupa pada nama, pada siapa? aku hilang aku dan hilang kamu sekali gus.esok matahari itu untuk siapa? mendiamlah. merebahlah. pejamkan mata kerana malam telah larut. pejamkan mata. pejamkan.